Jumat, 25 Mei 2012

Mengenal Bunga Bangkai (Amorphophallus titanum)

Bunga bangkai atau suweg raksasa atau batang krebuit (nama lokal untuk fase vegetatif), Amorphophallus titanum Becc., merupakan tumbuhan dari suku talas-talasan (Araceae) endemik dari Sumatera, Indonesia, yang dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga (majemuk) terbesar di dunia, meskipun catatan menyebutkan bahwa kerabatnya, A. gigas (juga endemik dari Sumatera) dapat menghasilkan bunga setinggi 5m. [1] Namanya berasal dari bunganya yang mengeluarkan bau seperti bangkai yang membusuk, yang dimaksudkan sebenarnya untuk mengundang kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya. Banyak orang sering salah mengira dan tidak bisa membedakan bunga bangkai dengan Rafflesia arnoldii. Mungkin karena orang sudah mengenal Rafflesia sebagai bunga terbesar dan kemudian menjadi bias dengan ukuran bunga bangkai yang juga besar.

Pemerian


Bunga bangkai di brosur Kebun Raya Bogor
Tumbuhan ini memiliki dua fase dalam kehidupannya yang muncul secara bergantian, fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif muncul daun dan batang semunya. Tingginya dapat mencapai 6m. Setelah beberapa waktu (tahun), organ vegetatif ini layu dan umbinya dorman. Apabila cadangan makanan di umbi mencukupi dan lingkungan mendukung, bunga majemuknya akan muncul. Apabila cadangan makanan kurang tumbuh kembali daunnya.
Bunganya sangat besar dan tinggi, berbentuk seperti lingga (sebenarnya adalah tongkol atau spadix) yang dikelilingi oleh seludang bunga yang juga berukuran besar. Bunganya berumah satu dan protogini: bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri. Hingga tahun 2005, rekor bunga tertinggi di penangkaran dipegang oleh Kebun Raya Bonn, Jerman yang menghasilkan bunga setinggi 2,74m pada tahun 2003. Pada tanggal 20 Oktober 2005, mekar bunga dengan ketinggian 2,91m di Kebun Botani dan Hewan Wilhelma, Stuttgart, juga di Jerman. Namun demikian, Kebun Raya Cibodas, Indonesia mengklaim bahwa bunga yang mekar di sana mencapai ketinggian 3,17m pada dini hari tanggal 11 Maret 2004 [2]. Bunga mekar untuk waktu sekitar seminggu,

Lain-lain

Bunga bangkai sekarang telah tersebar di berbagai tempat di penjuru dunia, terutama dimiliki oleh kebun botani atau penangkar-penangkar spesialis. Di Amerika, bunga yang muncul seringkali diberi julukan atau nama tertentu dan selalu menarik perhatian banyak pengunjung. Uniknya banyak pengunjung datang untuk "menikmati bau"nya.


Titan arum flowering
Amorphophallus titanum berbunga di Kew (Gambar: James Morley)

Video :




Detil data Amorphophallus titanum Becc.
Spesies : Amorphophallus titanum Becc.
Nama Inggris : Titan Arum
Nama Indonesia : Bunga Bangkai, Suweg Raksasa
Nama Lokal : Suweg raksasa, Kubut, Kehubut (Bengkulu)
Deskripsi : Bunga Bangkai termasuk di dalam suku talas-talasan (Araceae), tumbuh secara liar dan jarang hidup merumpun. Dari satu umbi biasanya muncul satu tunas saja. Umbi yang sudah dewasa garis tengah dapat mencapai 80 cm. Daunnya disebut daun majemuk yang tangkai daunnya disebut sebagai batang semu yang berwarna hijau dengan bercak-bercak putih seperti kulit ular, serta mencapai tinggi 3 m dengan garis tengah 30 cm. Perbungaannya berbentuk tongkol dengan bunga jantan dan bentinanya menempel pada tongkolnya. Bunga jantan terletak pada bagian atas tongkol, sedangkan bunga betinanya terdapat pada bagian pangkal tongkol. Bunga betina masak lebih dahulu dari bunga jantan, sehingga jenis ini memerlukan bunga jantan yang berasal dari perbungaan yang lain. Bau busuk inilah yang mengundang serangga (lalat) untuk datang dengan harapan membawa serbuk sari dari perbungaan yang lain. Perbungaan ini tingginya bisa mencapai 2 m dengan lebar mahkota bunga/spadik 1,5 m serta warnanya bervariasi dari merah lembayung sampai kehijauan. Hal yang unik serta menjadi dasar perlunya jenis ini dilindungi dari kepunahan adalah siklus pertumbuhannya. Dalam pertumbuhannya sampai dewasa ada 3 tahap, pertumbuhan vegetatif merupakan tahap dimana umbi tersebut menghasilkan daun saja.
Distribusi/Penyebaran : Jenis ini umumnya tumbuh di kawasan deretan Bukit Barisan di Sumatera namun di Bengkulu populasi bunga bangkai ini masih cukup tinggi dibandingkan dengan tempat lain.
Habitat : Jenis ini di alam menyukai tanah alluvial yang subur, gembur, kaya akan humus dengan pH 6-7. Tumbuh pada lahan-lahan yang miring seperti di tepi sungai, pada tempat terbuka dan kadang ditemukan juga di kebun-kebun kopi.
Perbanyakan : Perbanyakan dapat dilakukan dengan umbinya. Umbi tersebut dipotong-potong membujur. Bagian pucuk tumbuhnya harus diikutkan agar potongan umbi dapat berkecambah. Perlu dijaga agar potongan umbi tidak membusuk karena serangan bakteri atau jamur.
Manfaat tumbuhan : Umbinya dapat digunakan untuk bahan baku glukomanan walaupun kandungannya tidak terlalu tinggi dan dikatakan juga dapat dijadikan sumber konyaku.
Sumber Prosea : Mengenal Nusantara melalui Kekayaan Floranya p.23 (author(s): Sastrapradja, S. & Mien A. Rifai)
Kategori : Identitas propinsi Bengkulu

Penelusuran Lanjut :


Diospyros celebica (Kesemek Celebes)

Keluarga: Ebenaceae Ebony
Nama: Makassar; indonesian Ebony, Makassar Ebony
Negara Asal: Indonesia (Sulawesi)
Diospyros celebica Diospyros celebica Diospyros celebica


Diospyros Celebica (Kayu Eboni)

Deskripsi

Ebony Makassar (Diospyros celebica), adalah spesies pohon berbunga dalam keluarga Ebenaceae yang endemik di pulau Sulawesi di Indonesia .
Diospyros Celebica adalah nama kayu hitam yang berasal dari sulawesi selatan dari spesies eboni (Ebenaceae). Anggotanya di seluruh dunia mencapai sekitar 450-500 spesies pohon dan perdu yang selalu hijau atau sebagian ada pula yang menggugurkan daun. Kebanyakan tumbuhan ini berasal dari daerah tropis, dan hanya beberapa spesies yang tumbuh di daerah beriklim sedang.Tetapi jenis kayu hitam ini berbeda dengan spesies kayu hitam yang ada di seluruh dunia. Diospyros Celebica  memiliki ciri khas yaitu Pohon yang lurus dan tegak dengan tinggi sampai dengan 40 m. Diameter batang bagian bawah dapat mencapai 1 m. Kulit batangnya beralur, mengelupas kecil-kecil dan berwarna coklat hitam. Pepagannya berwarna coklat muda dan di bagian dalamnya berwarna putih kekuning-kuningan.
Daun tunggal terletak berseling, berbentuk jorong memanjang, dengan ujung meruncing, permukaan atasnya mengkilap, seperti kulit dan berwarna hijau tua, permukaan bawahnya berbulu dan berwarna hijau abu-abu.enis ini hanya terdapat di Sulawesi di hutan primer pada tanah liat, pasir atau tanah berbatu-batu yang mempunyai drainase baik, dengan ketinggian mencapai 600 m dpl. Secara alami, kayu hitam Sulawesi ditemukan baik di hutan hujan tropika maupun di hutan musim.
Kayu ini telah diekspor ke luar negeri semenjak abad ke-18. Pasar utamanya adalah Jepang, dan juga Eropa dan Amerika Serikat.
Karena perkembangan populasi yang lambat dan karena tingginya tingkat eksploitasi di alam, kini kayu hitam Sulawesi telah terancam kepunahan. Ekspor kayu ini mencapai puncaknya pada tahun 1973 dengan jumlah sekitar 26,000 m3, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya terus menurun karena kekurangan stok di alam

Detil data Diospyros celebica Bakh.
Spesies : Diospyros celebica Bakh.
Nama Inggris : Black ebony
Nama Indonesia : Eboni
Nama Lokal : kayu maitong (Sulawesi), sora (Sulawesi), toetandu (Sulawesi), kayu lotong (Sulawesi Selatan), kayu makasar (Sulawesi selatan)
Deskripsi : Pohon vang lurus batangnya ini dapat mencapai tinggi 40 m dengan garis tengah batang 100 cm dan sering berbanir besar. Kulit batangnya beralur dan mengelupas kecil-kecil, berwarna coklat-hitam. Daunnva tungal berseling, berbentuk jorong memanjang, permukaan bawahnya berbulu dan berwarna hijau abu-abu. Permukaan atas daun tidak berbulu dan berwarna hijau tua. Bunganya mengelompok pada ketiak daun, berwarna putih. Buahnya bulat telur, berbulu dan berwarna merah kuning sampai coklat bila tua. Kayu Eboni terdiri atas kayu gubal yang berwarna putih sampai merah muda dan kayu teras yang berwarna hitam atau coklat vang berbaris-baris hitam. Kayu ini sangat berat, dengan Berat jenis 0,76; kelas keawetan dan kekuatannya digolongkan dalam kelas satu.
Distribusi/Penyebaran : Penyebaran di Sulawesi dan Maluku
Habitat : Jenis ini dapat dijumpai di hutan primer pada tanah liat, pasir atau tanah berbatu-batu yang mempunyai drainase baik, pada ketinggian kurang dari 400 m dpl.
Perbanyakan : Perbanyakan dari biji, pertumbuhan sangat lambat
Manfaat tumbuhan : Karena kualitasnya yang baik, kayu ini termasuk kayu ekspor yang sangat mahal dan mempunvai banyak kegunaan termasuk di antaranya untuk tiang jembatan, vinir mewah, mebel, patung, ukiran dan hiasan rumah.
Sumber Prosea : 5(2): Timber trees: Minor commercial timbers p.191 (author(s): Soerianegara, I, D.S. Alonzo, S. Sudo, MSM Sosef)
Kategori : Identitas propinsi Sulawesi Tengah

Galeri Spesies-spesies Genus Diospyros :


Diospyros
blancoi
Diospyros blancoi (Хурма Бланко)
Diospyros
buxifolia
Diospyros buxifolia (Хурма самшитолистная)
Diospyros
celebica
Diospyros celebica (Хурма целебесская)
Diospyros
ellipsoidea
Diospyros ellipsoidea (Хурма эллипсовидная)
Diospyros
ferrea
Diospyros ferrea (Хурма железная)
Diospyros
malabarica
Diospyros malabarica (Хурма малабарская)
Diospyros
maritima
Diospyros maritima (Хурма приморская)
Diospyros

Mengenal Lebih Jauh Tentang Kayu Eboni

PENDAHULUAN

Kayu Eboni (Diospyros celebica Back) atau yang lebih dikenal dengan kayu Hitam adalah salah satu jenis kayu spesifik (asli) Sulawesi yang termasuk jenis kayu mewah (fancy wood) yang tumbuh tersebar di Sulawesi terutama Sulawesi Tengah (Kabupaten Parigi,Poso, Donggala,Toli-Toli, Kolonodale dan Luwuk), Sulawesi Selatan (Kabupaten Maros, Barru, Luwu dan Mamuju) dan Sulawesi Utara (Kabupaten Minahas dan Bolaang Mongndow).

Jenis inidigemari oleh masyarakat dunia karena nilai artistik baik dari tekstur dan warna kayuserta keawetan sehingga banyak dijadikan meubel atau barang kerajinan berupa hiasan dinding, patung, ukiran dan lain sebagainya.

Keberadaan kayu eboni dewasa ini sangat memprihatinkan, karena permintaan akan kebutuhan kayu eboni yang tidak diimbangi dengan keberhasilan budidaya menyebabkan populasi di alam jenis kayu ini banyak mengalami tekanan baik dari segi penyebaran maupun potensinya. Hal ini disebabkan oleh tingginya nilai ekonomi sehingga jenis ini mengalami tekanan ekploitas secara sangat intensif.

Karena laju penurunan populasi yang sangat cepat inilah maka jenis ini oleh World Conservation Union (WCN) yaitu lembaga yang bergerak dalam bidang konservasi sumberdaya alam global dan untuk spesies, lembaga ini mengeluarkan daftar tentang jenis-jenis flora maupun fauna yang terancam kepunahan. Dalam 2000 WCN Red List of Threatened Species, Eboni (Diospyros celebica Bakh) termasuk kategori Vulnerable (batas resiko tinggi punah di alam/rentan terhadap eksploitasi.

PENGENALAN JENIS

A. Nama dan Jenis
Kayu Eboni/kayu hitam (Diospyros celebica Bakh) adalah salah satu jenis tumbuhan berkayu yang termasuk dalam marga Diospyros merupakan salah satu marga dari suku Ebeneceae.

Dalam dunia perdagangan kayu eboni dikenal dengan nama Macassar ebony (Inggris, Amerika Serikat), ebene de Makassar (Perancis) gestreept ebben (Belanda), Macassar ebenhols (Jerman) ebeno de Macassar (Spanyol) ebeno di Macassar (Italia) dan Indonesisk ebenholt (Swedia). Sedangkan untuk nama daerah dikenal berbagai macam nama diantaranya Toe (Donggala, Poso dan Manado), Limara (Luwu), Sora (Malili) dan ayu Maitong (Parigi).

B. Fenotipe Pohon
Eboni (Diospyros celebica Bakh) adalah tumbuhan berkayu yang berukuran sedang sampai besar dengan tinggi dapat mencapai 40 meter dengan bebas cabang 10 sampai 26 meter. Diameter batang dapat mencapai 150 cm dengan akar papan/banir yang dapat mencapai 4 meter dari permukaan tanah. Bentuk batang silinder dengan permukaan bersisik dan berwarna hitam.

Daunnya berbentuk memanjang dan tunggal dengan ukuran 12-35 cm dan lebar 2,5-7 cm. Bagian dasar daun tumpul sampai agak menjantung dan ujung daun lancip sampai agak lancip.

C. Tempat Tumbuh
Secara alami tegakan eboni dijumpai di daerah pegunungan-pegunungan berbukit dataran rendah hingga mencapai ketinggian 700 meter dari permukaan laut, tetapi eboni pertumbuhannya kurang/tidak optimal jika tumbuh diatas 400 dpl sehingga untuk kegiatan budidaya ketinggian maksimum 400 mdpl.

Memperhatikan pada penyebaran alamnya di Sulawesi,tegakan eboni ada yang tumbuh di daerah hutan musim humida memiliki iklim basah (tipe A-D) dengan curah hutan rata-rata 2737 mm per tahun (Luwu, Mamuju, Poso) dan yang tumbuh di hutan Monsoon beriklim musim (tipe C) dengan rata-rata curah hujan tahunan sekitar 1709 mm per tahun (Parigi).

Pohon eboni tergolong jenis pohon semi toleran terhadap cahaya. Rata-rata temperatur udara yang dibutuhkan untuk perkembangan pertumbuhan dan perkembangan tanaman eboni 22-280C.

Daerah penyebaran eboni menunjukkn bahwa pohon eboni tumbuh di daerah geologis tua dengan berbatuan bermacam-macam seperti batu kapur, batu pasir, batu liat, napl, sabak dan lain sebagainya, begitu pula terhadap tanahnya, pohon eboni tumbuh pada berbagai macam tanah mulai tanah berkapur, latosol, podsolik merah kuning hingga tanah dangkal berbatu-batu.

D. Sifat Kayu
Berat jeniskayu eboni berkisar 1,01 sampai 1,27 dengan rata-rata 1,1 termasuk kayu yang sangat keras dan termasuk kayu dengan kelas kuat 1.

E. Kegunaan
Kayu eboni termasuk kayu lux dengan nilai dekoratif dan ekonomis yang sangat tinggi sehingga banyak digunakan untuk pembuatan mebeler, dekorasi (hiasan) dan lain-lain.

BUDIDAYA

A. Pengumpulan Buah dan Biji
Eboni mulai berbungan dan berbuah umur 5-7 tahun dengan musim berbunga diperkirakan bulan April-Mei dan berbuah masak bulan September-November.

Pengumpulan buah masak sebaiknya dikumpulkan di atas pohon atau memakai jaring untuk menghindari buah jatuh ke lantai hutan. Karena buah yang diperoleh dari lantai hutan mudah rusak akibat serangan jamur. Ciri-ciri buah masak kulit buah berwarna merah kuning atau warna sawo, berbulu dan bijinya berwarna coklat tua.

Biji baru umumnya memiliki daya kecambah tinggi sekitar 85% dan akan terus turun jika disimpan. Penurunan data kecambah bisa dipertahankan hingga 70% dalam waktu 12 hari jika diberi perlakuan dengan mencampur biji dengan arang basah dengan perbandingan seimbang (1:1).

B. Pembuatan Bibit
Pohon eboni termasuk jenis pohon semi toleran sehingga persemaiannya harus dibuat pada tempat yang agak teduh.Biji harus segera disemai pada polybag yang telah terisi media, Bibit siap tanam jika telah berumur sekitar 8-10 bulan dengan tinggi ± 25-30 cm.

Sedangkan jika penggunaan bibit menggunakan anakan alam, maka pengumpulannya menggunakn cara cabutan. Maksimum tinggi bahan cabutan untuk bibit yaitu 15 cm dan sebelum ditanam dilapangan terlebih dahulu disapih dipersemaian selama ± 4-5 bulan.

C. Penanaman
Persiapan lahan penanaman pohon eboni tergantung dari kondisi lahannya, untuk lokasi tanah kosong atau padang alang-alang dilakukan pembersihan secara total, sedangkan pada areal bekas pembalakan penyiapan lahan dalam bentuk 1 -2 meter.

Penanaman pada areal terbuka harus didahului dengan penanaman pohon peneduh sebagai naungan. Jarak tanam pohon peneduh digunakan 3 x 1,5 atau 2,5 x 2,5 dan jarak tanam pohon eboni 5 x 5 atau 3 x 3. Pohon peneduh dikurangi secara pertahap saat eboni mencapai tingkat sampling.

Pengendalian gulma dilaksanakan 4 kali dalam tahun pertama dan 2 kali dalam tahun kedua dan ketiga. Untuk pengendalian gulma pada penanaman dengan sistem jalur dilakukan hingga tahun kelima.

PENGENALAN SUMBER BENIH

Dalam upaya menyelamatkan dan pembudidayaan eboni di Sulawesi perlu ditunjang denga ketersediaan benih dan bibit yang berkualitas serta dalam jumlah yang cukup.
Untuk memenuhi hal tersebut di atas telah ditunjuk beberapa lokasi sumber benih oleh Kepala BPTH Sulawesi berdasarkan hasil identifikasi dan deskripsi TIM BPTH dan dinas setempat.

Adapun lokasi-lokasi sumber benih untuk jenis eboni yaitu:
1. Propinsi Sulawesi Barat, Kab. Mamuju, Kec. Papalang, Desa Batu Papang. dengan luas 100 Ha.
2. Propinsi Sulawesi Selatan, Kab.Barru, Kec. Barru, Desa Coppo. dengan luas 10 Ha.
3. Propinsi Sulawesi Selatan, Kab. Luwu Timur, Kec. Mangkutana, Desa Mango Lembo Kalaena. dengan luas 95 Ha. (terbagi dalam 2 lokasi yakni 55 Ha dan 40 Ha).
4. Propinsi Sulawesi Tengah, Kab.Parigi Moutong, Kec. Sausu, Desa Sausu. dengan luas 57 Ha.
5. Propinsi Sulawesi Tengah, Kab.Morowali, Kec. Lembo, Desa Wawopada. dengan luas 25 Ha.
6. Propinsi Sulawesi Utara, Kab.Minahasa Utara, Kec.Lipupang barat, Desa airbanua. dengan luas 3 Ha.


 Penelusuran lanjut :

Wikipedia

Trees of Tropical 

Gambar Diospyros celebica :

flickr

Kamis, 24 Mei 2012

Flacourtia inermis (Flakurtiya awnless)

Keluarga : Flakurtievye Flocourtiaceae
Nama      : plum Batoko, Batoko Plum, Lori-Lori, Lovi-lovi, Rukam
Negara Asal : Filipina

Deskripsi :  Pohon kecil dengan dedauan rimbun.  Daunnya hijau tua,sampai cm, bulat telur dan berbentukelips, dengan tepi bergelombang bergigi. Warna daun dari merah muda sampai merah.  Buah bulat sampai 3 cm.  buah mentah berwarna hijau, masak merah' kemerah-merahan sampai hampir hitan.  Daging berair asam atau asam manis sampai sedikit asam.  Digunakan terutama untuk jus selai dan sirup  

Flacourtia inermis Flacourtia inermis Flacourtia inermis
Flacourtia inermis Flacourtia inermis Flacourtia inermis
Flacourtia inermis Flacourtia inermis Flacourtia inermis
Flacourtia inermis Flacourtia inermis Flacourtia inermis
Flacourtia inermis Flacourtia inermis Flacourtia inermis
Flacourtia inermis Flacourtia inermis Flacourtia inermis
Flacourtia inermis Flacourtia inermis Flacourtia inermis
Flacourtia inermis Flacourtia inermis
Penelusuran lanjut :


Kayu Ulin

 Sistem Klasifikasi berdasarkan berbagai sumber penelusuran dapat dilihat berikut ini

Sumber Rank Classification
The Integrated Taxonomic Information System and T Orrell (custodian) in Species 2000 & ITIS Catalogue of Life: Annual Checklist 2009
view in classification
Species
National Center for Biotechnology Information Species
Integrated Taxonomic Information System (ITIS)
view in classification
Species
IUCN Red List
IUCN Red List
view in classification

National Center for Biotechnology Information
view in classification
Species
BioLib.cz Import
BOLDS resource for species-level taxa
Catalogue of Life Species
TaxonConcept.org outlinks
  • Eusideroxylon lauriflora
USDA Plants
Wikipedia












Kayu Ulin (Eusideroxylon zwagweri) merupakan kayu yang sangat kuat dan tahan serangan rayap dan serangga penggerek batang, perubahan kelembaban dan suhu serta air laut, sehingga sering disebut sebagai kayu besi. Batang kayu tersebut sangat keras dan sangat berat, sehingga tenggelam dalam air. Kayu Ulin banyak tumbuh di Kalimantan dan sebagian Sumatera. Selain untuk membangun rumah adat masyarakat Dayak, ulin juga digunakan antara lain untuk sumpit, bagian kapal dan jembatan.

Namun kini, kayu ini terancam punah, Ulin dilarang diperjualbelikan. Kelangkaan dipicu pertumbuhan ulin sangat lambat. Biji ulin besar dan berpelindung kuat semacam zat tanduk. Pelindungnya tebal seperti batok kelapa. Ketika jatuh ke tanah tidak langsung tumbuh. Buah yang dibiarkan jatuh itu baru mengeluarkan tunas setelah enam bulan hingga satu tahun. Zat tanduk ulin lebih banyak dibandingkan dengan kayu lain. Teras atau bagian luar ulin juga lebih kuat. Jika ingin tumbuh lebih cepat, buah harus dipecahkan.Buah diperlakukan khusus dengan mengikir cangkang. Meski demikian, budidaya belum juga berhasil. Padahal sejumlah penelitian telah dilakukan.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kalimantan Tengah Sipet Hermanto mengakui, budidaya di Kalteng belum menunjukkan hasil yang baik. “Beberapa perusahaan kehutanan sudah pernah mencoba membudidayakan pohon itu, tetapi hasilnya belum signifikan”, jelasnya. Persoalannya pertumbuhan ulin sangat lambat. Pemerintah setempat berencana membuka kawasan konservasi ulin di Kabupaten Katingan. Luas lahan yang disipkan sekitar 200 hektar. Program itu akan dimulai pada tahun 2012.

Buah ulin berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 15 sentimeter dan berdiamater sekitar 7 sentimeter. Selain dikikir, perkecambahan bisa dipercepat dengan menggoreng . Buah digoreng  bukan dengan minyak melainkan dengan pasir. Lambatnya perkembangan ulin itu ditunjukkan dengan rata-rata pertumbuhan diameter pohonnya. Dibandingan dengan rata-rata diameter pertumbuhan pohon meranti, lebih kurang satu sentimeter per tahun. Sementara pertumbuhan ulin hanya 0,058 sentimeter dalam setahun.

Peremajaan menjadi perhatian utama untuk mengembalikan pamor kayu ulin sehingga kayu ini tidak punah selamanya.





Informasi dari Wikipedia Berbahasa Indonesia tentang Kayu Ulin adalah sebaagi berikut:

?Ulin
Eusideroxylon zwageri.JPG
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
(tidak termasuk) Magnoliids
Ordo: Laurales
Famili: Lauraceae
Genus: Eusideroxylon
Spesies: E. zwageri
Nama binomial
Eusideroxylon zwageri
Teysm. & Binnend.
Ulin atau disebut juga dengan bulian atau kayu besi adalah pohon berkayu dan merupakan tanaman khas Kalimantan.[1] Kayu ulin terutama dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti konstruksi rumah, jembatan, tiang listrik, dan perkapalan.[2] Ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera bagian selatan dan Kalimantan. [1]

Morfologi

Ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter sampai 120 cm [3]. Pohon ini tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m.[3] Ulin umumnya tumbuh pada ketinggian 5 – 400 m di atas permukaan laut dengan medan datar sampai miring, tumbuh terpencar atau mengelompok dalam hutan campuran namun sangat jarang dijumpai di habitat rawa-rawa.[4]Kayu Ulin juga tahan terhadap perubahan suhu, kelembaban, dan pengaruh air laut sehingga sifat kayunya sangat berat dan keras.[4] Pohon ulin agak terpisah dari pepohonan lain dan dikelilingi jalur jalan melingkar dari kayu ulin.[5] Di bagian bawah pohon ulin terdapat bagian yang berlobang.[5]

Pemuliaan

Proses pemuliaan alami di hutan bekas tebangan umumnya kurang berjalan dengan baik.[6] Perkecambahan biji Ulin membutuhkan waktu cukup lama sekitar 6-12 bulan dengan persentase keberhasilan relatif rendah, produksi buah tiap pohon umumnya juga sedikit.[6] Penyebaran permudaan alam secara umum cenderung mengelompok. [6] Ulin tumbuh di dataran rendah primer dan hutan sekunder sampai dengan ketinggian 500m.[6] Biji ulin lebih suka ditiriskan baik tanah, tanah liat berpasir ke tanah liat, kadang-kadang batu kapur. [6]Hal ini umumnya ditemukan di sepanjang sungai dan bukit-bukit yang berdekatan. Hal ini membutuhkan rata-rata curah hujan tahunan 2500-4000 mm.[6]





Galeri spesies : Eusideroxylon zwageri

Eusideroxylon zwageri Eusideroxylon zwageri Eusideroxylon zwageri
Eusideroxylon zwageri Eusideroxylon zwageri
Eusideroxylon zwageri Eusideroxylon zwageri

Teknik Budidaya Ulin
(Informasi dari Balai Teknologi Reboisasi Palembang Badan penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan dan Perkebunan)

  1. PENDAHULUAN Ulin (Eusideroxylon zwageri T. et. B) merupakan salah satu jenis penyusunan hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan. Jenis ini dikenal dengan nama daerah : bulian, bulian rambai, onglen, belian, tabulin dan telian.
    Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m dpl.
    Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi di dalam air, tiang bangunan, sirap, papan lantai, jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat.
    Dalam rangka pengembangan tanaman ulin, diperlukan informasi dan kajian budidaya yang tepat sesuai dengan karakteristik tempat hidupnya.
  2. PENGADAAN BIBIT
    1. Pengadaan Benih Pohon ulin berubah setiap tahun, pada bulan Juli – Oktober. Buah ulin berbentuk bulat lonjong dengan garis tengah 5 – 10 cm dan panjang 10 – 20 cm. Buah muda berwarna hijau dan menjadi coklat setelah masak. Daging buah akan lepas dari biji melalui proses pembusukan selama ±1-2 bulan. Biji berwarna putih gading dengan kulit biji yang keras setebal 1-2 mm.
      Untuk memecahkan kulit biji yang keras, dapat dilakukan skarifikasi dengan merendam dalam air selama 2 jam, kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari selama 2 hari. Cara skarifikasi dengan menggunakan bantuan alat yang tajam dapat merusak kotilendon.
    2. Perkecambahan Perkecambahan ulin dapat dilakukan langsung ke kantong plastik atau melalui bedeng tabur. Perkecambahan melalui bedeng tabur memberikan hasil yang lebih baik.

      1. Bedeng Tabur
        Bedeng tabur dibuat dengan menggunakan sungkup dari plastik transparan berbentuk setengah lingkaran dengan garis tengah 70 cm. Sungkup dibuat di bawah tegakan atau naungan. Media yang digunakan untuk perkecambahan adalah pasir yang telah disterilkan, dengan cara : solarisasi, digoreng sangan atau fumigasi media dengan fungisida (Dithane M-45). Tebal pasir di bedeng tabur minimal 20 cm, mengingat pertumbuhan akar ulin sangat sepat dan panjang.
      2. Penaburan Benih
        Penaburan dilakukan setelah benih diskarifikasi. Benih ditabur sedalam ¾ dari ukuran benih dengan posisi mendatar. Benih mulai berkecambah pada hari ke 33 sampai siap sapih pada hari ke 69 (umur 8 minggu). Dengan cara tersebut diperoleh hasil persen kecambah di atas 95%.
    3. Penyapihan Penyapihan bibit dari bedeng tabur ke sapihan dengan menggunakan kantong plastik ukuran 20 x 30 cm. Media yang digunakan adalah campuran tanah, pasir dan kompos dengan perbandingan 7 : 2 : 1. Penyapihan dilakukan pada pagi atau sore hari pada tempat yang teduh.
      Bedeng sapih dibuat di bawah naungan dengan kondisi sebagaimana bedeng tabur. Dalam penyapihan bibit ulin, yang perlu diperhatikan adalah hal-hal sebagai berikut:

      • Akar tunjang jangan sampai terlipat atau patah, mengingat akar cukup panjang dan besar;
      • Biji jangan sampai terputus/terlepas dari bibitnya, karena terpisahnya biji dari bibit akan menyebabkan kematian bibit tanaman.
      Bibit di tingkat sapihan memerlukan waktu 3-4 bulan dan bibit siap tanam di pangan. Bibit asal cabutan anakan alam yang sering digunakan untuk pertanaman, pertumbuhannya kurang baik di lapangan, karena mungkin disebabkan terlepasnya biji dari bibit.
    4. Pemeliharaan Bibit
      • Penyiraman dan Pemupukan
        Penyiraman dilakukan paling sedikit satu kali dalam satu hari. Pemupukan diberikan apabila pertumbuhan bibit di bedeng sapih kurang baik. Pupuk yang biasa digunakan adalah NPK (15:15:15) dengan dosis 10 gr per kantong plastik.
      • Pengendalian Hama dan Penyakit
        Pengendalian hama dan penyakit dilakukan apabila terlihat adanya gejala serangan. Insektisida atau fungisida yang digunakan disesuaikan dengan jenis jamur ataupun serangga yang menyerangnya.
  3. PEMBUATAN TANAMAN
    1. Persiapan Lapangan
      1. Pemilihan Lokasi
        Ulin termasuk jenis semi toleran, yang pada waktu mudanya memerlukan naungan dengan intensitas tertentu. Pertumbuhan awal terbaik pada instensitas cahaya 5-25%. Penanaman pada lahan terbuka, perlu ditanami terlebih dahulu dengan jenis tanaman lain yang bertajuk rapat sehingga mencapai instensitas cahaya di bawah tegakan sebagaimana tersebut di atas.
      2. Persiapan Lapangan
        Areal yang akan digunakan perlu dibersihkan dari belukar yang dapat mengganggu penanaman dengan cara jalur selebar 2 m. Ajir tanaman dipasang dengan jarak 4 x 4 m. Lubang-lubang tanam dibuat dengan ukuran 30 x 40 cm dengan kedalaman 30 cm.
      3. Penanaman Penanaman dilakukan pada waktu awal musim penghujan, diikuti dengan pengairan. Pada saat penanaman, biji juga harus tetap dijaga agar jangan sampai terlepas dari bibitnya.
      4. Pemeliharaan
        1. Penyulaman
          Penyulaman dilakukan satu bulan setelah penanaman. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada waktu musim hujan masih ada.
        2. Penyiangan dan Pendangiran
          Penyiangan dilakukan setiap 4 bulan sekali pada tahun pertama dan 6 bulan sekali pada tahun berikutnya. Penyiangan dilakukan secara jalur dengan lebar 1 m ke kanan dan kiri tanaman. Pendangiran dilakukan bersamaan dengan pendangiran.
        3. Pemupukan
          Jenis dan dosis pemupukan yang dipergunakan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Pemupukan dilakukan satu tahun sekali. Pupuk NPK (15:15:15) dengan dosis 100 gr per pohon memberikan hasil yang lebih baik. Pemupukan awal dilakukan pada saat tanaman berumur satu bulan.
















Rabu, 23 Mei 2012

Pinus radiata D. Don

 

Nama Alternatif

Lencana pinus, pinus radiata, Cambria pinus

Penggunaan

Ethnobotanic: Benih-benih dari semua spesies pinus adalah kacang pinus dapat dimakan dan secara historis menjadi makanan penting dimanfaatkan oleh banyak suku asli Amerika (Strike 1994). Pines juga dihargai karena kayu mereka, getah, dan daun cemara. Karena jangkauan yang dibatasi, suku beberapa digunakan pinus Monterey. Para Costanoan dan mungkin Salinan mengandalkan benih sebagai sumber makanan di daerah pesisir dari wilayah mereka. Pedro Fages (1937) menggambarkan Indian California di daerah Monterey dengan menggunakan berbagai jenis kacang pinus dan di antara mereka orang-orang dari Monterey pinus. Dia menulis, "kerucut dari pohon pinus kecil, dan kacang-kacangan sangat begitu, tetapi sangat baik dan enak rasanya. Metode pengumpulan satunya adalah untuk membuat api di kaki pohon, yang dalam beberapa jam jatuh, membuat buah tersedia tanpa kesulitan "(Fages 1937; 68-69). Batuan dasar mortir Banyak ditemukan berdekatan dengan hutan pinus Monterey, yang mungkin bukti tambahan penggunaannya oleh kedua suku (Leonard 1963). Kerucut tertutup dari Monterey pinus itu mungkin sumber daya yang sangat berharga karena mereka tetap di pohon dan karena itu dapat dipanen sepanjang tahun. Kerucut tertutup terbuka di respon terhadap panas dan dapat dengan mudah dibuka dengan menempatkan mereka pada atau dekat api. Kacang pinus dimakan utuh atau ditumbuk menjadi tepung yang dibuat menjadi bubur atau dicampur dengan makanan lain. Para muda catkins laki-laki dapat dimakan dan dikatakan memiliki rasa yang bagus baik mentah atau dimasak (Couplan 1998). Selama musim dingin yang berat atau saat kelangkaan kulit bagian dalam pohon pinus akan berfungsi sebagai makanan darurat.
Jarum-jarum pinus, yang mengandung vitamin C, yang diseduh menjadi teh yang diminum untuk mengobati sakit kepala (Heinsen 1972). Para Costanoan dan lain-lain mengunyah getah pinus untuk mengobati rematik. Ini resin atau pek digunakan sebagai salep yang diterapkan untuk luka bakar dan luka. Resin pinus yang berguna sebagai lem atau sealant. Resin pinus juga mengunyah permen karet. Kacang pinus dibakar menjadi arang, dilumatkan, dan kemudian diterapkan pada kedua luka dan luka bakar. Berbagai suku-suku asli Amerika digunakan akar perpecahan spesies pinus banyak sebagai dasar untuk membuat perangkap ikan, pengocok benih, beban dan jenis lain dari keranjang (Murphey 1959). Bagian-bagian dalam dari ramping ranting pinus baru dapat diproses menjadi bahan jahit (Barrett & Gifford 1933).
Ternak: Kambing browsing di Monterey pinus.
Margasatwa: Hitam-ekor rusa menelusuri daun dan cabang dari Monterey pinus. Landak diketahui browsing di daun dan cabang serta makan kulit kayu. Mamalia kecil termasuk tikus rusa, tupai, dan tupai tanah memakan biji. Di antara burung yang makan biji jays scrub, jays Stellar, dan gagak. Nesting kastanye yang didukung chickadees telah diamati untuk mendapatkan hampir 80% dari diet mereka dari serangga mencari makan di pohon-pohon pinus Monterey (Kleintjes & Dahlsten 1994).
Lainnya: Monterey pinus digunakan untuk pengendalian erosi dan stabilisasi lereng curam karena cepat tumbuh dan memiliki sistem akar yang luas menyebar. Pohon-pohon kadang-kadang digunakan sebagai pohon Natal.

Status

Masyarakat asli menganggap Tanaman California Monterey pinus langka di kisaran asli. Silakan berkonsultasi situs TANAMAN Web dan Departemen Luar Negeri Anda Sumber Daya Alam untuk status saat ini tanaman (spesies misalnya terancam atau hampir punah, status berbahaya negara, dan nilai-nilai lahan basah indikator).

Weediness

Tanaman ini dapat menjadi kurus atau invasif di beberapa daerah atau habitat dan dapat menggantikan vegetasi diinginkan jika tidak dikelola dengan baik. Silakan berkonsultasi dengan Field Office lokal Anda NRCS, kantor Perpanjangan Layanan Koperasi, atau sumber daya alam negara atau departemen pertanian mengenai status dan penggunaan. Informasi Gulma juga tersedia dari situs Web TANAMAN.

Deskripsi

Umum: keluarga Pine (Pinaceae). Pinus Monterey adalah tanaman asli California dan Baja California di mana mereka terjadi hanya dalam populasi kecil. Dewasa Monterey pinus dapat mencapai 38 meter tingginya dengan batang hingga 2 m dengan diameter. Pohon-pohon muda mulai sebagai piramida kompak tetapi umur ke dalam bentuk bervariasi. Kanopi dewasa biasanya dibulatkan menjadi datar beratap. Di sepanjang pantai Pasifik, angin memahat Monterey pinus kanopi ke dalam bentuk yang indah. Kulit berwarna merah-coklat sampai coklat kehitaman dan memiliki alur-alur yang dalam. Daunnya mengkilap, jarum hijau tua, 6-15 cm yang tumbuh di bundel tiga. Jarum di pohon-pohon yang lebih tua kadang-kadang hijau kebiruan. Bunga muncul di akhir musim dingin atau awal musim semi. Pohon-pohon berumah satu, memiliki bunga jantan dan betina (McDonald & Laacke 1990). Para catkins jantan kuning 12mm panjang dan umumnya ditemukan di cabang-cabang lateral. Bunga betina tumbuh di seluruh kanopi. Kerucut coklat keabu-abuan yang asimetris oval, 6 sampai 15 cm, dan dilahirkan pada batang pendek dalam kelompok 3 sampai 7 kerucut. Timbangan yang halus dan membulat. Kerucut masing-masing berisi 120-200 coklat tua sampai hitam, biji bersayap bergelombang yang 6-7mm panjang. Kerucut tetap ditutup pada pohon sampai tahun kedua atau kadang-kadang lebih lama. Kerucut umumnya mematangkan dan buka dari akhir musim dingin ke musim semi awal tahun kedua. Setelah itu, mereka mungkin tetap pada pohon di mana mereka dapat membuka dan menutup beberapa kali tergantung pada suhu dan kelembaban. Kayu close-berbutir ringan dan lembut. Meskipun tidak dianggap sebagai pohon kayu penting di California, telah banyak ditanam di daerah dengan iklim Mediterania di seluruh dunia untuk digunakan sebagai kayu dan pulp.
Distribusi: Monterey pinus adalah tanaman asli California dan Baja California. Asli Monterey hutan pinus menempati sebagian kecil dari rentang sejarah mereka dan saat ini terbatas pada lima lokasi pesisir: Ano Nuevo di utara, Semenanjung Monterey, Cambria, dan pada Guadalupe dan Cedros pulau-pulau di lepas pantai Baja, California di selatan.
Untuk distribusi saat ini, silahkan baca Profil Tanaman untuk spesies ini di situs Web TANAMAN.
Habitat: Monterey pinus tumbuh di bawah 1200 meter di hutan pinus kerucut tertutup dan hutan ek. Spesies ini adalah salah satu dari 18 spesies California pinus dan cemara yang beruang kerucut tertutup (Dallman 1998:27). Tribun yang tersisa dari Monterey pinus terancam oleh berbagai faktor termasuk urbanisasi, pengembangan rekreasi, dan pencegah kebakaran, hama dan penyakit. Pencegah kebakaran telah menghasilkan tegakan hutan yang sangat tua, yang lebih rentan terhadap serangan dari hama dan penyakit. Di daerah Monterey, pohon-pohon secara serius terancam oleh wabah "kanker lapangan pinus", penyakit jamur yang disebabkan oleh Fusarium subglutans pini. Jamur ini baru-baru ini diperkenalkan ke California dari Amerika Serikat tenggara dan dilakukan dari pohon ke pohon oleh serangga asli beberapa termasuk kerucut pinus Monterey kumbang (Conophthorus radiatae), ranting kumbang (Pitophthorus spp.) Dan kumbang pemahat (ips spp.). Berdiri Adat dari Monterey pinus juga terancam oleh kontaminasi genetik, yang dihasilkan dari persilangan dengan pohon yang ditanam yang didatangkan dari daerah lain.

Adaptasi

Pinus Monterey disesuaikan dengan tanah sedang sampai tekstur berat. Pinus Monterey memiliki kerucut serotinous yang tidak melepaskan benih kecuali mengalami suhu tinggi. Superheating dapat terjadi pada hari-hari yang sangat panas atau selama acara api. Karena hari panas tidak sering terjadi di Central Coast California, penambahan bank benih sangat tergantung pada api (Hillyard 1997).

Pembentukan

Pinus Monterey adalah hias serta berguna. Jenis ini adalah pinus yang paling banyak dibudidayakan di dunia (Templeton et al. 1997). Monterey pinus juga pohon-pohon yang paling banyak ditanam untuk memilih-dan-potong pohon Natal peternakan di California. Mereka adalah pohon peneduh yang sangat baik, bertindak sebagai angin efektif dan hambatan suara, dan telah digunakan untuk pengendalian erosi.
Hati-hati untuk memilih tempat yang tepat untuk menanam pohon-pohon ini tumbuh cepat. Pinus Monterey adalah pinus yang tumbuh paling pesat lebih dari 90 spesies yang terjadi di dunia (Labadie 1978). Pohon muda dapat tumbuh sampai 2 meter per tahun, umumnya mencapai 12 sampai 18 meter dalam 25 tahun. Pohon-pohon memiliki masa hidup rata-rata 80 sampai 90 tahun.
Pohon-pohon ini memerlukan dalam, drainase baik, sedang untuk tanah saja bertekstur kesuburan sedang. Pohon yang ditanam pada tanah tergenang air dangkal atau mungkin tidak stabil karena akar vertikal dangkal. Monterey pinus bisa rusak atau dibunuh di daerah di mana suhu mencapai di bawah titik beku.
Pinus Monterey biasanya dipindahkan dari wadah atau batang bawah telanjang tumbuh pembibitan komersial. Namun, tanaman ini biasanya datang dari saham Selandia Baru. Meskipun saham Selandia Baru berasal dari populasi California, persilangan dengan penduduk asli dianggap sebagai ancaman bagi konservasi penduduk asli karena kontaminasi genetik (Cope 1993).
Benih dapat menyebarkan pohon pinus Monterey. Memilih dgn rapi matang kerucut dari pohon atau dari tanah. Udara kering dibuka kerucut dengan menyebarkan mereka di tempat, cerah kering. Untuk membuka kerucut tertutup, menjatuhkan mereka ke dalam air mendidih selama 1 sampai 2 menit atau lebih, jika diperlukan. Keluarkan bibit dari kerucut dengan gemetar mereka keluar. Meskipun kerucut memerlukan panas untuk melepaskan benih, benih umumnya tidak memerlukan perlakuan awal untuk berkecambah. Satu sampai tiga minggu dingin-lembab stratifikasi dapat meningkatkan perkecambahan, terutama untuk benih yang telah disimpan (Emery 1988). Monterey pinus umumnya tidak diperbanyak dengan stek sebagai, meskipun dengan panas bawah, stek dapat berlangsung empat bulan atau lebih untuk membentuk akar.

Pengelolaan

Didirikan pohon memerlukan penyiraman mendalam sesekali disertai dengan pemupukan cahaya untuk tetap sehat. Untuk mengontrol ukuran pohon, dan untuk meningkatkan bushiness, pertumbuhan baru, yang disebut lilin, dapat dipangkas di musim semi seperti yang muncul. Hapus cabang mati atau sekarat.

Hama dan Masalah Potensial

Kerdil Barat mistletoe, karat empedu barat, blights jarum berbagai ngengat pitch, terpentin kumbang merah, kanker pitch, Monterey pinus skala, skala pinus tidak teratur, pinus skala daun, kutu daun, tungau, penggerek ujung pinus, ngengat ujung pinus.

Kekhawatiran Lingkungan

Meskipun Monterey pinus terancam di habitat asli mereka hadir, mereka telah dianggap sebagai hama kurus di beberapa daerah di California dimana mereka telah melarikan diri budidaya. Millar (1998) menggunakan bukti fosil untuk mendukung sebuah pandangan alternatif: bahwa Monterey pinus populasi secara historis bergeser dalam ukuran dan lokasi sepanjang pantai California dan Baja dalam menanggapi perubahan iklim. Dia menyarankan, bahwa untuk memungkinkan untuk kelangsungan hidupnya Monterey pinus, pembentukan tegakan baru stok asli dalam jangkauan sejarah pinus itu harus dianggap sebagai peluang untuk konservasi dan bukan sebagai ancaman bagi spesies asli lainnya.

Kultivar, Bahan Peningkatan, dan Terpilih (dan daerah asal)

Tanaman ini sudah tersedia dari sumber komersial. Permintaan tanaman didirikan dari California asli daripada saham New Zealand.
Jika Anda menanam pohon di daerah dekat berdiri asli, pastikan benih atau bibit berasal dari stok genetik yang sama dengan yang berdiri.
Hubungi lokal Alam Sumber Daya Anda Conservation Service (dahulu Tanah Conservation Service) kantor untuk informasi lebih lanjut. Lihat dalam buku telepon di bawah Dinas Konservasi Sumber Daya Alam akan terdaftar di bawah subpos "Pemerintah Amerika Serikat." "Departemen Pertanian."
Anchor text

Baris Video

Loading...

IFrame IKLAN

Page Rank

page rank 2

ShinyStat