Jumat, 25 Mei 2012

Diospyros Celebica (Kayu Eboni)

Deskripsi

Ebony Makassar (Diospyros celebica), adalah spesies pohon berbunga dalam keluarga Ebenaceae yang endemik di pulau Sulawesi di Indonesia .
Diospyros Celebica adalah nama kayu hitam yang berasal dari sulawesi selatan dari spesies eboni (Ebenaceae). Anggotanya di seluruh dunia mencapai sekitar 450-500 spesies pohon dan perdu yang selalu hijau atau sebagian ada pula yang menggugurkan daun. Kebanyakan tumbuhan ini berasal dari daerah tropis, dan hanya beberapa spesies yang tumbuh di daerah beriklim sedang.Tetapi jenis kayu hitam ini berbeda dengan spesies kayu hitam yang ada di seluruh dunia. Diospyros Celebica  memiliki ciri khas yaitu Pohon yang lurus dan tegak dengan tinggi sampai dengan 40 m. Diameter batang bagian bawah dapat mencapai 1 m. Kulit batangnya beralur, mengelupas kecil-kecil dan berwarna coklat hitam. Pepagannya berwarna coklat muda dan di bagian dalamnya berwarna putih kekuning-kuningan.
Daun tunggal terletak berseling, berbentuk jorong memanjang, dengan ujung meruncing, permukaan atasnya mengkilap, seperti kulit dan berwarna hijau tua, permukaan bawahnya berbulu dan berwarna hijau abu-abu.enis ini hanya terdapat di Sulawesi di hutan primer pada tanah liat, pasir atau tanah berbatu-batu yang mempunyai drainase baik, dengan ketinggian mencapai 600 m dpl. Secara alami, kayu hitam Sulawesi ditemukan baik di hutan hujan tropika maupun di hutan musim.
Kayu ini telah diekspor ke luar negeri semenjak abad ke-18. Pasar utamanya adalah Jepang, dan juga Eropa dan Amerika Serikat.
Karena perkembangan populasi yang lambat dan karena tingginya tingkat eksploitasi di alam, kini kayu hitam Sulawesi telah terancam kepunahan. Ekspor kayu ini mencapai puncaknya pada tahun 1973 dengan jumlah sekitar 26,000 m3, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya terus menurun karena kekurangan stok di alam

Detil data Diospyros celebica Bakh.
Spesies : Diospyros celebica Bakh.
Nama Inggris : Black ebony
Nama Indonesia : Eboni
Nama Lokal : kayu maitong (Sulawesi), sora (Sulawesi), toetandu (Sulawesi), kayu lotong (Sulawesi Selatan), kayu makasar (Sulawesi selatan)
Deskripsi : Pohon vang lurus batangnya ini dapat mencapai tinggi 40 m dengan garis tengah batang 100 cm dan sering berbanir besar. Kulit batangnya beralur dan mengelupas kecil-kecil, berwarna coklat-hitam. Daunnva tungal berseling, berbentuk jorong memanjang, permukaan bawahnya berbulu dan berwarna hijau abu-abu. Permukaan atas daun tidak berbulu dan berwarna hijau tua. Bunganya mengelompok pada ketiak daun, berwarna putih. Buahnya bulat telur, berbulu dan berwarna merah kuning sampai coklat bila tua. Kayu Eboni terdiri atas kayu gubal yang berwarna putih sampai merah muda dan kayu teras yang berwarna hitam atau coklat vang berbaris-baris hitam. Kayu ini sangat berat, dengan Berat jenis 0,76; kelas keawetan dan kekuatannya digolongkan dalam kelas satu.
Distribusi/Penyebaran : Penyebaran di Sulawesi dan Maluku
Habitat : Jenis ini dapat dijumpai di hutan primer pada tanah liat, pasir atau tanah berbatu-batu yang mempunyai drainase baik, pada ketinggian kurang dari 400 m dpl.
Perbanyakan : Perbanyakan dari biji, pertumbuhan sangat lambat
Manfaat tumbuhan : Karena kualitasnya yang baik, kayu ini termasuk kayu ekspor yang sangat mahal dan mempunvai banyak kegunaan termasuk di antaranya untuk tiang jembatan, vinir mewah, mebel, patung, ukiran dan hiasan rumah.
Sumber Prosea : 5(2): Timber trees: Minor commercial timbers p.191 (author(s): Soerianegara, I, D.S. Alonzo, S. Sudo, MSM Sosef)
Kategori : Identitas propinsi Sulawesi Tengah

Galeri Spesies-spesies Genus Diospyros :


Diospyros
blancoi
Diospyros blancoi (Хурма Бланко)
Diospyros
buxifolia
Diospyros buxifolia (Хурма самшитолистная)
Diospyros
celebica
Diospyros celebica (Хурма целебесская)
Diospyros
ellipsoidea
Diospyros ellipsoidea (Хурма эллипсовидная)
Diospyros
ferrea
Diospyros ferrea (Хурма железная)
Diospyros
malabarica
Diospyros malabarica (Хурма малабарская)
Diospyros
maritima
Diospyros maritima (Хурма приморская)
Diospyros

Mengenal Lebih Jauh Tentang Kayu Eboni

PENDAHULUAN

Kayu Eboni (Diospyros celebica Back) atau yang lebih dikenal dengan kayu Hitam adalah salah satu jenis kayu spesifik (asli) Sulawesi yang termasuk jenis kayu mewah (fancy wood) yang tumbuh tersebar di Sulawesi terutama Sulawesi Tengah (Kabupaten Parigi,Poso, Donggala,Toli-Toli, Kolonodale dan Luwuk), Sulawesi Selatan (Kabupaten Maros, Barru, Luwu dan Mamuju) dan Sulawesi Utara (Kabupaten Minahas dan Bolaang Mongndow).

Jenis inidigemari oleh masyarakat dunia karena nilai artistik baik dari tekstur dan warna kayuserta keawetan sehingga banyak dijadikan meubel atau barang kerajinan berupa hiasan dinding, patung, ukiran dan lain sebagainya.

Keberadaan kayu eboni dewasa ini sangat memprihatinkan, karena permintaan akan kebutuhan kayu eboni yang tidak diimbangi dengan keberhasilan budidaya menyebabkan populasi di alam jenis kayu ini banyak mengalami tekanan baik dari segi penyebaran maupun potensinya. Hal ini disebabkan oleh tingginya nilai ekonomi sehingga jenis ini mengalami tekanan ekploitas secara sangat intensif.

Karena laju penurunan populasi yang sangat cepat inilah maka jenis ini oleh World Conservation Union (WCN) yaitu lembaga yang bergerak dalam bidang konservasi sumberdaya alam global dan untuk spesies, lembaga ini mengeluarkan daftar tentang jenis-jenis flora maupun fauna yang terancam kepunahan. Dalam 2000 WCN Red List of Threatened Species, Eboni (Diospyros celebica Bakh) termasuk kategori Vulnerable (batas resiko tinggi punah di alam/rentan terhadap eksploitasi.

PENGENALAN JENIS

A. Nama dan Jenis
Kayu Eboni/kayu hitam (Diospyros celebica Bakh) adalah salah satu jenis tumbuhan berkayu yang termasuk dalam marga Diospyros merupakan salah satu marga dari suku Ebeneceae.

Dalam dunia perdagangan kayu eboni dikenal dengan nama Macassar ebony (Inggris, Amerika Serikat), ebene de Makassar (Perancis) gestreept ebben (Belanda), Macassar ebenhols (Jerman) ebeno de Macassar (Spanyol) ebeno di Macassar (Italia) dan Indonesisk ebenholt (Swedia). Sedangkan untuk nama daerah dikenal berbagai macam nama diantaranya Toe (Donggala, Poso dan Manado), Limara (Luwu), Sora (Malili) dan ayu Maitong (Parigi).

B. Fenotipe Pohon
Eboni (Diospyros celebica Bakh) adalah tumbuhan berkayu yang berukuran sedang sampai besar dengan tinggi dapat mencapai 40 meter dengan bebas cabang 10 sampai 26 meter. Diameter batang dapat mencapai 150 cm dengan akar papan/banir yang dapat mencapai 4 meter dari permukaan tanah. Bentuk batang silinder dengan permukaan bersisik dan berwarna hitam.

Daunnya berbentuk memanjang dan tunggal dengan ukuran 12-35 cm dan lebar 2,5-7 cm. Bagian dasar daun tumpul sampai agak menjantung dan ujung daun lancip sampai agak lancip.

C. Tempat Tumbuh
Secara alami tegakan eboni dijumpai di daerah pegunungan-pegunungan berbukit dataran rendah hingga mencapai ketinggian 700 meter dari permukaan laut, tetapi eboni pertumbuhannya kurang/tidak optimal jika tumbuh diatas 400 dpl sehingga untuk kegiatan budidaya ketinggian maksimum 400 mdpl.

Memperhatikan pada penyebaran alamnya di Sulawesi,tegakan eboni ada yang tumbuh di daerah hutan musim humida memiliki iklim basah (tipe A-D) dengan curah hutan rata-rata 2737 mm per tahun (Luwu, Mamuju, Poso) dan yang tumbuh di hutan Monsoon beriklim musim (tipe C) dengan rata-rata curah hujan tahunan sekitar 1709 mm per tahun (Parigi).

Pohon eboni tergolong jenis pohon semi toleran terhadap cahaya. Rata-rata temperatur udara yang dibutuhkan untuk perkembangan pertumbuhan dan perkembangan tanaman eboni 22-280C.

Daerah penyebaran eboni menunjukkn bahwa pohon eboni tumbuh di daerah geologis tua dengan berbatuan bermacam-macam seperti batu kapur, batu pasir, batu liat, napl, sabak dan lain sebagainya, begitu pula terhadap tanahnya, pohon eboni tumbuh pada berbagai macam tanah mulai tanah berkapur, latosol, podsolik merah kuning hingga tanah dangkal berbatu-batu.

D. Sifat Kayu
Berat jeniskayu eboni berkisar 1,01 sampai 1,27 dengan rata-rata 1,1 termasuk kayu yang sangat keras dan termasuk kayu dengan kelas kuat 1.

E. Kegunaan
Kayu eboni termasuk kayu lux dengan nilai dekoratif dan ekonomis yang sangat tinggi sehingga banyak digunakan untuk pembuatan mebeler, dekorasi (hiasan) dan lain-lain.

BUDIDAYA

A. Pengumpulan Buah dan Biji
Eboni mulai berbungan dan berbuah umur 5-7 tahun dengan musim berbunga diperkirakan bulan April-Mei dan berbuah masak bulan September-November.

Pengumpulan buah masak sebaiknya dikumpulkan di atas pohon atau memakai jaring untuk menghindari buah jatuh ke lantai hutan. Karena buah yang diperoleh dari lantai hutan mudah rusak akibat serangan jamur. Ciri-ciri buah masak kulit buah berwarna merah kuning atau warna sawo, berbulu dan bijinya berwarna coklat tua.

Biji baru umumnya memiliki daya kecambah tinggi sekitar 85% dan akan terus turun jika disimpan. Penurunan data kecambah bisa dipertahankan hingga 70% dalam waktu 12 hari jika diberi perlakuan dengan mencampur biji dengan arang basah dengan perbandingan seimbang (1:1).

B. Pembuatan Bibit
Pohon eboni termasuk jenis pohon semi toleran sehingga persemaiannya harus dibuat pada tempat yang agak teduh.Biji harus segera disemai pada polybag yang telah terisi media, Bibit siap tanam jika telah berumur sekitar 8-10 bulan dengan tinggi ± 25-30 cm.

Sedangkan jika penggunaan bibit menggunakan anakan alam, maka pengumpulannya menggunakn cara cabutan. Maksimum tinggi bahan cabutan untuk bibit yaitu 15 cm dan sebelum ditanam dilapangan terlebih dahulu disapih dipersemaian selama ± 4-5 bulan.

C. Penanaman
Persiapan lahan penanaman pohon eboni tergantung dari kondisi lahannya, untuk lokasi tanah kosong atau padang alang-alang dilakukan pembersihan secara total, sedangkan pada areal bekas pembalakan penyiapan lahan dalam bentuk 1 -2 meter.

Penanaman pada areal terbuka harus didahului dengan penanaman pohon peneduh sebagai naungan. Jarak tanam pohon peneduh digunakan 3 x 1,5 atau 2,5 x 2,5 dan jarak tanam pohon eboni 5 x 5 atau 3 x 3. Pohon peneduh dikurangi secara pertahap saat eboni mencapai tingkat sampling.

Pengendalian gulma dilaksanakan 4 kali dalam tahun pertama dan 2 kali dalam tahun kedua dan ketiga. Untuk pengendalian gulma pada penanaman dengan sistem jalur dilakukan hingga tahun kelima.

PENGENALAN SUMBER BENIH

Dalam upaya menyelamatkan dan pembudidayaan eboni di Sulawesi perlu ditunjang denga ketersediaan benih dan bibit yang berkualitas serta dalam jumlah yang cukup.
Untuk memenuhi hal tersebut di atas telah ditunjuk beberapa lokasi sumber benih oleh Kepala BPTH Sulawesi berdasarkan hasil identifikasi dan deskripsi TIM BPTH dan dinas setempat.

Adapun lokasi-lokasi sumber benih untuk jenis eboni yaitu:
1. Propinsi Sulawesi Barat, Kab. Mamuju, Kec. Papalang, Desa Batu Papang. dengan luas 100 Ha.
2. Propinsi Sulawesi Selatan, Kab.Barru, Kec. Barru, Desa Coppo. dengan luas 10 Ha.
3. Propinsi Sulawesi Selatan, Kab. Luwu Timur, Kec. Mangkutana, Desa Mango Lembo Kalaena. dengan luas 95 Ha. (terbagi dalam 2 lokasi yakni 55 Ha dan 40 Ha).
4. Propinsi Sulawesi Tengah, Kab.Parigi Moutong, Kec. Sausu, Desa Sausu. dengan luas 57 Ha.
5. Propinsi Sulawesi Tengah, Kab.Morowali, Kec. Lembo, Desa Wawopada. dengan luas 25 Ha.
6. Propinsi Sulawesi Utara, Kab.Minahasa Utara, Kec.Lipupang barat, Desa airbanua. dengan luas 3 Ha.


 Penelusuran lanjut :

Wikipedia

Trees of Tropical 

Gambar Diospyros celebica :

flickr

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...