Kamis, 24 Mei 2012

Kayu Ulin

 Sistem Klasifikasi berdasarkan berbagai sumber penelusuran dapat dilihat berikut ini

Sumber Rank Classification
The Integrated Taxonomic Information System and T Orrell (custodian) in Species 2000 & ITIS Catalogue of Life: Annual Checklist 2009
view in classification
Species
National Center for Biotechnology Information Species
Integrated Taxonomic Information System (ITIS)
view in classification
Species
IUCN Red List
IUCN Red List
view in classification

National Center for Biotechnology Information
view in classification
Species
BioLib.cz Import
BOLDS resource for species-level taxa
Catalogue of Life Species
TaxonConcept.org outlinks
  • Eusideroxylon lauriflora
USDA Plants
Wikipedia












Kayu Ulin (Eusideroxylon zwagweri) merupakan kayu yang sangat kuat dan tahan serangan rayap dan serangga penggerek batang, perubahan kelembaban dan suhu serta air laut, sehingga sering disebut sebagai kayu besi. Batang kayu tersebut sangat keras dan sangat berat, sehingga tenggelam dalam air. Kayu Ulin banyak tumbuh di Kalimantan dan sebagian Sumatera. Selain untuk membangun rumah adat masyarakat Dayak, ulin juga digunakan antara lain untuk sumpit, bagian kapal dan jembatan.

Namun kini, kayu ini terancam punah, Ulin dilarang diperjualbelikan. Kelangkaan dipicu pertumbuhan ulin sangat lambat. Biji ulin besar dan berpelindung kuat semacam zat tanduk. Pelindungnya tebal seperti batok kelapa. Ketika jatuh ke tanah tidak langsung tumbuh. Buah yang dibiarkan jatuh itu baru mengeluarkan tunas setelah enam bulan hingga satu tahun. Zat tanduk ulin lebih banyak dibandingkan dengan kayu lain. Teras atau bagian luar ulin juga lebih kuat. Jika ingin tumbuh lebih cepat, buah harus dipecahkan.Buah diperlakukan khusus dengan mengikir cangkang. Meski demikian, budidaya belum juga berhasil. Padahal sejumlah penelitian telah dilakukan.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kalimantan Tengah Sipet Hermanto mengakui, budidaya di Kalteng belum menunjukkan hasil yang baik. “Beberapa perusahaan kehutanan sudah pernah mencoba membudidayakan pohon itu, tetapi hasilnya belum signifikan”, jelasnya. Persoalannya pertumbuhan ulin sangat lambat. Pemerintah setempat berencana membuka kawasan konservasi ulin di Kabupaten Katingan. Luas lahan yang disipkan sekitar 200 hektar. Program itu akan dimulai pada tahun 2012.

Buah ulin berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 15 sentimeter dan berdiamater sekitar 7 sentimeter. Selain dikikir, perkecambahan bisa dipercepat dengan menggoreng . Buah digoreng  bukan dengan minyak melainkan dengan pasir. Lambatnya perkembangan ulin itu ditunjukkan dengan rata-rata pertumbuhan diameter pohonnya. Dibandingan dengan rata-rata diameter pertumbuhan pohon meranti, lebih kurang satu sentimeter per tahun. Sementara pertumbuhan ulin hanya 0,058 sentimeter dalam setahun.

Peremajaan menjadi perhatian utama untuk mengembalikan pamor kayu ulin sehingga kayu ini tidak punah selamanya.





Informasi dari Wikipedia Berbahasa Indonesia tentang Kayu Ulin adalah sebaagi berikut:

?Ulin
Eusideroxylon zwageri.JPG
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
(tidak termasuk) Magnoliids
Ordo: Laurales
Famili: Lauraceae
Genus: Eusideroxylon
Spesies: E. zwageri
Nama binomial
Eusideroxylon zwageri
Teysm. & Binnend.
Ulin atau disebut juga dengan bulian atau kayu besi adalah pohon berkayu dan merupakan tanaman khas Kalimantan.[1] Kayu ulin terutama dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti konstruksi rumah, jembatan, tiang listrik, dan perkapalan.[2] Ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera bagian selatan dan Kalimantan. [1]

Morfologi

Ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter sampai 120 cm [3]. Pohon ini tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m.[3] Ulin umumnya tumbuh pada ketinggian 5 – 400 m di atas permukaan laut dengan medan datar sampai miring, tumbuh terpencar atau mengelompok dalam hutan campuran namun sangat jarang dijumpai di habitat rawa-rawa.[4]Kayu Ulin juga tahan terhadap perubahan suhu, kelembaban, dan pengaruh air laut sehingga sifat kayunya sangat berat dan keras.[4] Pohon ulin agak terpisah dari pepohonan lain dan dikelilingi jalur jalan melingkar dari kayu ulin.[5] Di bagian bawah pohon ulin terdapat bagian yang berlobang.[5]

Pemuliaan

Proses pemuliaan alami di hutan bekas tebangan umumnya kurang berjalan dengan baik.[6] Perkecambahan biji Ulin membutuhkan waktu cukup lama sekitar 6-12 bulan dengan persentase keberhasilan relatif rendah, produksi buah tiap pohon umumnya juga sedikit.[6] Penyebaran permudaan alam secara umum cenderung mengelompok. [6] Ulin tumbuh di dataran rendah primer dan hutan sekunder sampai dengan ketinggian 500m.[6] Biji ulin lebih suka ditiriskan baik tanah, tanah liat berpasir ke tanah liat, kadang-kadang batu kapur. [6]Hal ini umumnya ditemukan di sepanjang sungai dan bukit-bukit yang berdekatan. Hal ini membutuhkan rata-rata curah hujan tahunan 2500-4000 mm.[6]





Galeri spesies : Eusideroxylon zwageri

Eusideroxylon zwageri Eusideroxylon zwageri Eusideroxylon zwageri
Eusideroxylon zwageri Eusideroxylon zwageri
Eusideroxylon zwageri Eusideroxylon zwageri

Teknik Budidaya Ulin
(Informasi dari Balai Teknologi Reboisasi Palembang Badan penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan dan Perkebunan)

  1. PENDAHULUAN Ulin (Eusideroxylon zwageri T. et. B) merupakan salah satu jenis penyusunan hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan. Jenis ini dikenal dengan nama daerah : bulian, bulian rambai, onglen, belian, tabulin dan telian.
    Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m dpl.
    Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi di dalam air, tiang bangunan, sirap, papan lantai, jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat.
    Dalam rangka pengembangan tanaman ulin, diperlukan informasi dan kajian budidaya yang tepat sesuai dengan karakteristik tempat hidupnya.
  2. PENGADAAN BIBIT
    1. Pengadaan Benih Pohon ulin berubah setiap tahun, pada bulan Juli – Oktober. Buah ulin berbentuk bulat lonjong dengan garis tengah 5 – 10 cm dan panjang 10 – 20 cm. Buah muda berwarna hijau dan menjadi coklat setelah masak. Daging buah akan lepas dari biji melalui proses pembusukan selama ±1-2 bulan. Biji berwarna putih gading dengan kulit biji yang keras setebal 1-2 mm.
      Untuk memecahkan kulit biji yang keras, dapat dilakukan skarifikasi dengan merendam dalam air selama 2 jam, kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari selama 2 hari. Cara skarifikasi dengan menggunakan bantuan alat yang tajam dapat merusak kotilendon.
    2. Perkecambahan Perkecambahan ulin dapat dilakukan langsung ke kantong plastik atau melalui bedeng tabur. Perkecambahan melalui bedeng tabur memberikan hasil yang lebih baik.

      1. Bedeng Tabur
        Bedeng tabur dibuat dengan menggunakan sungkup dari plastik transparan berbentuk setengah lingkaran dengan garis tengah 70 cm. Sungkup dibuat di bawah tegakan atau naungan. Media yang digunakan untuk perkecambahan adalah pasir yang telah disterilkan, dengan cara : solarisasi, digoreng sangan atau fumigasi media dengan fungisida (Dithane M-45). Tebal pasir di bedeng tabur minimal 20 cm, mengingat pertumbuhan akar ulin sangat sepat dan panjang.
      2. Penaburan Benih
        Penaburan dilakukan setelah benih diskarifikasi. Benih ditabur sedalam ¾ dari ukuran benih dengan posisi mendatar. Benih mulai berkecambah pada hari ke 33 sampai siap sapih pada hari ke 69 (umur 8 minggu). Dengan cara tersebut diperoleh hasil persen kecambah di atas 95%.
    3. Penyapihan Penyapihan bibit dari bedeng tabur ke sapihan dengan menggunakan kantong plastik ukuran 20 x 30 cm. Media yang digunakan adalah campuran tanah, pasir dan kompos dengan perbandingan 7 : 2 : 1. Penyapihan dilakukan pada pagi atau sore hari pada tempat yang teduh.
      Bedeng sapih dibuat di bawah naungan dengan kondisi sebagaimana bedeng tabur. Dalam penyapihan bibit ulin, yang perlu diperhatikan adalah hal-hal sebagai berikut:

      • Akar tunjang jangan sampai terlipat atau patah, mengingat akar cukup panjang dan besar;
      • Biji jangan sampai terputus/terlepas dari bibitnya, karena terpisahnya biji dari bibit akan menyebabkan kematian bibit tanaman.
      Bibit di tingkat sapihan memerlukan waktu 3-4 bulan dan bibit siap tanam di pangan. Bibit asal cabutan anakan alam yang sering digunakan untuk pertanaman, pertumbuhannya kurang baik di lapangan, karena mungkin disebabkan terlepasnya biji dari bibit.
    4. Pemeliharaan Bibit
      • Penyiraman dan Pemupukan
        Penyiraman dilakukan paling sedikit satu kali dalam satu hari. Pemupukan diberikan apabila pertumbuhan bibit di bedeng sapih kurang baik. Pupuk yang biasa digunakan adalah NPK (15:15:15) dengan dosis 10 gr per kantong plastik.
      • Pengendalian Hama dan Penyakit
        Pengendalian hama dan penyakit dilakukan apabila terlihat adanya gejala serangan. Insektisida atau fungisida yang digunakan disesuaikan dengan jenis jamur ataupun serangga yang menyerangnya.
  3. PEMBUATAN TANAMAN
    1. Persiapan Lapangan
      1. Pemilihan Lokasi
        Ulin termasuk jenis semi toleran, yang pada waktu mudanya memerlukan naungan dengan intensitas tertentu. Pertumbuhan awal terbaik pada instensitas cahaya 5-25%. Penanaman pada lahan terbuka, perlu ditanami terlebih dahulu dengan jenis tanaman lain yang bertajuk rapat sehingga mencapai instensitas cahaya di bawah tegakan sebagaimana tersebut di atas.
      2. Persiapan Lapangan
        Areal yang akan digunakan perlu dibersihkan dari belukar yang dapat mengganggu penanaman dengan cara jalur selebar 2 m. Ajir tanaman dipasang dengan jarak 4 x 4 m. Lubang-lubang tanam dibuat dengan ukuran 30 x 40 cm dengan kedalaman 30 cm.
      3. Penanaman Penanaman dilakukan pada waktu awal musim penghujan, diikuti dengan pengairan. Pada saat penanaman, biji juga harus tetap dijaga agar jangan sampai terlepas dari bibitnya.
      4. Pemeliharaan
        1. Penyulaman
          Penyulaman dilakukan satu bulan setelah penanaman. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada waktu musim hujan masih ada.
        2. Penyiangan dan Pendangiran
          Penyiangan dilakukan setiap 4 bulan sekali pada tahun pertama dan 6 bulan sekali pada tahun berikutnya. Penyiangan dilakukan secara jalur dengan lebar 1 m ke kanan dan kiri tanaman. Pendangiran dilakukan bersamaan dengan pendangiran.
        3. Pemupukan
          Jenis dan dosis pemupukan yang dipergunakan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Pemupukan dilakukan satu tahun sekali. Pupuk NPK (15:15:15) dengan dosis 100 gr per pohon memberikan hasil yang lebih baik. Pemupukan awal dilakukan pada saat tanaman berumur satu bulan.
















LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...